Seluruh Sektor Menguat, IHSG Ditutup Naik ke 6.188,98

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berakhir di zona hijau setelah mengalami tekanan yang cukup dalam sepanjang perdagangan hari Kamis ini. Seluruh sektor saham pembentuk IHSG menghijau.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (29/3/2018), IHSG naik 48,15 poin atau 0,78 persen ke posisi 6.188,98. Indeks saham LQ45 juga menguat 0,54 persen. Seluruh indeks saham acuan kompak berada di zona hijau.

Sebanyak 213 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 157 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG ke level yang lebih tinggi. Di luar itu 114 saham lainnya diam di tempat.

IHSG sempat berada di level tertinggi 6.188,98 dan terendah 6.101,76

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 359.999 kali dengan volume perdagangan 13,2 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 38,6 triliun. Investor asing beli saham Rp 14 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.765.

Seluruh sektor saham pembentuk IHSG menghijau. Sektor saham aneka industri naik 2,40 persen dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar naik 1,70 persen dan sektor saham pertambangan menguat 1,64 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham ARTO melonjak 34,51 persen ke posisi Rp 191, saham JSKY mendaki 25 persen ke posisi Rp 750, dan saham RODA naik 25 persen ke posisi Rp 350 per saham.

Saham-saham yang melemah antara lain saham SKBM turun 17,60 persen ke posisi Rp 412, saham BBLD merosot 15,70 persen ke posisi Rp 412, dan saham GDYR tergelincir 12,95 persen ke posisi Rp 1.915 per saham.

Sebelumnya, analis Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi menyebutkan IHSG berpotensi rebound pada perdagangan akhir Maret. Pada perdagangan kemarin, IHSG memang terus berada di zona merah.

“IHSG berpotensi rebound diakhir bulan Maret dengan rentan pergerakan 6080-6205,” ujarnya.

Sementara itu, Analis PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengungkapkan IHSG mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar lanjutan pada pergerakan indeks saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *