Rentetan Bunuh Diri Melanda Gunungkidul, Bisa Diputus..?

Usia Sugeng Riyanto sudah menginjak 23 tahun. Namun, perkerjaan yang dia cari ke sana ke mari tidak kunjung dapat. Putus asa dan niat bunuh diri pun mencuat. Tanpa pikir panjang, Sugeng mengambil seutas tali yang dia gantungkan pada sebatang kayu. Setelah melilitkan ke leher, Sugeng melompat. Brak! kayu patah, percobaan gantung diri gagal sehingga dia tidak jadi meninggal.

Mengetahui kejadian itu, keluarga Sugeng bertindak cepat. Dia dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan selama 10 hari. Pendekatan keagamaan pun dilakukan untuk menenangkan pikiran Sugeng. “Karena pikiran tidak karuaan, terjadi kejadian tersebut,” kata Sugeng. Sugeng bukan satu-satunya pelaku percobaan bunuh diri di Gunungkidul, Yogyakarta. Namun ada puluhan kasus sejenis yang terjadi setiap tahun. Ada yang selamat, tapi banyak juga yang berakhir di liang lahat.

Agen Judi Bandar Togel – Casino – Live Games Pool Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Data yang dikumpulkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Inti Mata Jiwa (Imaji), ada 459 kejadian bunuh diri di wilayah itu sepanjang 2001-2017. Rata-rata tiap tahunnya mencapai 27 kasus. Faktor penyebabnya cukup beragam. Dari hasil pemeriksaan polisi dan medis yang dihimpun LSM Imaji, penyebab utama adalah depresi. Persentasenya mencapai 43%. Pemicu lain yakni sakit fisik menahun 26%, gangguan jiwa 6%, kesulitan ekonomi 5%, masalah keluarga 4%, dan tanpa keterangan sebanyak 16%.

Tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul pun kerap dikaitkan dengan mitos pulung gantung. Sebuah mitos tentang adanya bola api besar yang terbang di atas pemukiman warga. Sebagian warga percaya, jika bola api itu hinggap ke salah satu rumah, maka penghuninya akan bunuh diri. Makanya, pulung gantung akan diusir dengan kayu jika menampakkan diri.

Sugeng meragukan mitos tersebut. Apalagi, dia belum pernah melihat langsung wujud pulung gantung. Namun dia menyebut, pulung gantung memang menjadi mitos di tengah masyarakat Gunungkidul sejak lama. “Jika ada yang bunuh diri dikaitkan dengan pulung gantung, ujarnya. Sementara Sugeng punya pendapat lain. Bagi dia, pemicu bunuh diri bukan faktor gaib, melainkan adanya gangguan kesehatan atau kejiwaan. Sebagai penyintas bunuh diri, kini Sugeng mencoba bangkit berkat dukungan keluarga dan lingkungannya. Sekarang dia bekerja sebagai aparatur Desa Bejiharjo, Gunungkidul.

Agen Judi Bola – Casino – Poker Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *