Pertarungan Jokowi Vs Prabowo Jilid 2, ke Mana PAN dan Demokrat?

Pernyataan Prabowo Subianto dalam Rakornas Partai Gerindra di Hambalang, Bogor, meramaikan kontestasi politik menuju Pilpres 2019. Dalam pidatonya, purnawirawan Letnan Jenderal itu menerima amanat kader yang mendorongnya kembali maju menjadi capres. Prabowo sudah setengah jalan masuk ke gelanggang berhadapan dengan Jokowi, yang terlebih dulu menyatakan akan kembali maju menjadi calon presiden.

Yang masih kurang tinggal hitung-hitungan suara persyaratan administratif untuk maju di Pilpres 2019. Gerindra berharap dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum sudah membatasi kriteria dukungan bagi calon presiden. Ambang batas pencalonan presiden dipatok 20-25 persen. Dengan demikian, hanya parpol atau gabungan parpol dengan 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional yang bisa mencalonkan presiden.

Sokongan PKS dengan 8,6 persen kursi DPR dan PAN bermodal 7,1 persen kursi DPR akan memuluskan langkah Prabowo. Ada pun Gerindra punya 13 persen kursi DPR di kantungnya. Pengamat Politik Saiful Mujani Research and Consulting, Sirajuddin Abbas berpendapat, PKS sudah hampir dipastikan bergabung dengan Gerindra.
Lain halnya dengan PAN. Menurut Sirajuddin, partai itu masih galau memilih di dua kubu yang akan berkontetasi. Masalahnya adalah problem internal berupa dualisme kepemimpinan di partai berlambang matahari.

Agen Judi Bandar Togel – Casino – Live Games Pool Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Secara struktural, kuasa ada di tangan Zulkifli Hasan sebagai Ketua Umum PAN, tapi kepemimpinan simbolik berada pada Ketua Dewan Kehormatan, Amien Rais. Sirajuddin mengatakan, Amien kritis dan sinis terhadap Jokowi. Sikap itu membuat Zulkifli bergabung koalisi pendukung Jokowi. Bila PAN memilih mendukung Joko Widodo, menurut Sirajuddin, akan muncul kompleksitas masalah. Bisa jadi hal itu akan memunculkan ongkos politik besar berupa perpecahan yang akan berdampak di Pemilu 2019.

“Paling aman PAN memilih berkoalisi dengan Gerindra,” Sirajuddin berujar. PAN bukan satu-satunya partai yang belum menentukan dukungan. Ada pula Partai Demokrat yang belum menjatuhkan pilihan. Menurut Sirajuddin, Demokrat masih terbuka. Namun, beberapa sinyalemen mulai ditunjukan. Ia merujuk pidato Jokowi di Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, 11 Maret 2018.

Sirajuddin mengatakan, Jokowi dan Demokrat tampak memperlihatkan upaya saling mendekat. Yang jelas, Demokrat diprediksi tak akan mengulang langkah politik di 2014 yang memilih abstain dalam mendukung calon presiden.Namun peluang Demokrat bergabung ke dua kubu koalisi, menurut dia, akan sama besar. Baik PAN mau pun Demokrat masih diplomatis soal rencana koalisi di Pilpres 2019.

Sekjen PAN, Eddy Soeparno mengatakan, masih membuka komunikasi dengan semua pihak. Sejauh ini, PAN berpegang pada hasil Rapat Kerja Nasional 2017 yang memberi mandat pada Ketua Umum, Zulkifli Hasan, maju di pilpres 2019. Putusan akhirnya akan diketok di Rakernas PAN 2018. “Kita lakukan pembicaraan yang seluas-luasnya dengan semua parpol, tokoh, capres, termasuk juga kita dapatkan masukan dari akar rumput kita dan konstituen,” Eddy menjelaskan.

Sementara, Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, politik saat ini masih cair. Komunikasi politik masih dilakukan. “Kita kan punya mekanisme. Ada ketum partai, majelis tinggi, ada elite-elite partai yang terus berkomunikasi,” katanya di sela safari AHY Sowan ke Jateng

Agen Judi Bola – Casino – Poker Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *