Legenda Jakarta, Foto Ahok Tetap Terpampang Di Balai Kota Walau Di Penjara

Jakarta tahun ini memasuki usia 490 tahun. Ibarat mahluk maka dapat dikatakan kondisi tubuhnya sudah tua renta. Manusia saja ketika memasuki usia 80 an posisi tubuh membungkuk. Itulah sunatullah atau suatu kenyataan alam yang tidak bisa dibantah. Dapat dibayangkan seandainya Kota Jakarta ibarat makhluk bernama manusia maka dia akan berusia seperti Nabi Nabi terdahulu.

Sejarah mencatata 3 tahun kebelakang Jakarta memiliki 3 orang gubernur. Peristiwan ini tidak pernah terjadi sebelumnya dimana setiap Gubernur Jakarta selalu mengakhiri masa jabatannya selama 5 tahun. Ketika Jokowi terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia maka Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menggantikan. Hanya menjabat 2 tahun lebih Ahok terkena kasus hukum maka otomatis sang wakil Djarot Syaefullah di angkat menjadi Gubernur ke – 18.

Setelah Djarot resmi dilantik Presiden Jokowi maka Ahok dipastikan secara de jure tidak menjabat Gubernur Jakarta. Kalaupun secara de facto pendukung Ahok masih berharap dari sisi hukum proses rehabilitasi namun tampaknya harus ada perubahan luar biasa atas kehaendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekarang Ahok dengan segala kelebihan dan kekurangan telah menjadi legenda Jakarta. Mengapa saya katakan demikian tentu beralasan karena sepak terjang Beliau cukup fenomenal. Merombak total wajah birokrasi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dari sikap dilayani menjadi melayani warga dengan sepenuh hati.

Agen Judi Bola – Casino – Poker Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Paling tidak itulah peninggalan Ahok yang patut dicatat dalam sejarah perjalanan kota tua Jayakarta yang kini menjema menjadi Megapolitan. Catatan Ahok sebagai Gubernur Jakarta ke 17 tidak bisa dihapus walaupun Beliau di penjara. Kasus hukum tetap kasus hukum namun tidak menafikkan catatan seorang Warga Negara Indonesia pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta. Biarlah nanti ratusan tahun kemudian sejarah dibaca oleh anak cucu tentang sosok seorang Gubernur yang diberhentikan dan kemudian di penjara tapi bukan karena kasus korupsi..

Foto Ahok di ruang tunggu tamu utama Balai Kota agak berbeda dibanding foto mantan gubernur DKI lainnya. Dalam foto itu, Ahok nampak hanya mengenakan baju pakaian dinas harian (PDH) berwarna putih, agak berbeda dari para mantan gubernur lain yang mengenakan jas serta dasi atau Presiden Jokowi yang mengenakan pakaian dinas gubernur. Sebelumya diberitakan, foto Basuki Tjahaja Purnama telah dipasang di Balai Kota DKI. Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta yang ke-17, setelah mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Baiklah mari flash back sejenak terkait kiprah Ahok dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Jakarta ke 17. Siapa lagi yang berani [selain Ahok] membongkar praktek korupsi anggaran di Jakarta yang telah terjadi puluhan tahun. Mengambil atau mencuri uang negara secara tidak syah telah di mulai pada sessi perencanaan. Kolusi antara beberapa oknum eksekutif dan legislatif di sponsori oleh rekanan tertentu menjadi agenda tahunan. Kesepakatan jahat itu terjadi ketika diselenggarakan penyusunan Rencana Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Khusus Ibukota Jakarta (RAPBD – DKI ).

Semua telah terjadi. Toh di rapat bersama dengan DPRD DKI waktu itu Pak Ahok tidak terpancing lagi emosi. Justikasi yang mungkin bisa disampaikan disini atas perilaku Ahok adalah kumulasi dari kekesalan, kegeraman dan kekecewaan Beliau menyaksikan korupsi di wilayah tanggung jawabnya. Ya sikap Ahok bisa ditoleransi atau di justifikasi ditinjau dari sisi kemanusiaan dan kejiwaan yang meledak seketika.

Berbicara soal keberanian, Ahok bolehlah mendapat ponten sepuluh jari. Pahlawan Betawi Si Pitung juga pemberani melawan penjajah. Keduanya berani karena membela kebenaran. Pitung mempersenjatai diri dengan golok maka kompeni kucar kacir. Ahok lain lagi, dengan gaya bicaranya yang meledak ledak semua oknum yang diduga tersangkut korupsi APBD DKI ketar ketir tidak bisa tidur nyenyak.

Agen Judi Bola – Casino – Poker Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Kenyataan membuktikan bahwa penyebab amarah Ahok adalah jeleknya sistem birokrasi di Pemda DKI yang berbuntut kepada korupsi.Kemarahan itu akhirnya ditumpahkan kepada sesiapa saja yang dianggapnya biang keladi korupsi di wilayah kewenangan. Kalaupun penyiar TV dan kemudian anak buah atau orang lain ikutan tersemprot juga dengan kata kata kasar Ahok, harap di maklumi defence mechanizm itu sedang berada pada titik tertinggi.

Point yang ingin saya sampaikan disini adalah sikap atau kearifan para pihak yang terkait dengan amanah dan wewenang mengurus Jakarta. Disatu sisi Pak Ahok mendapat dukungan warga membongkar praktek korupsi dengan keberanian luar biasa. Disisi lain terbersit pesan warga. Berangkat dari pengalaman tersebut dan dengan terpilihnya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno diharapkan anda kerjasama antar eksekutif dan legislatif. Artinya Anggota DPRD DKI bersedia membahas RAPBD dengan Pak Gubernur beserta jajarannya dengan catatan tetap berpegang kepada kejujuran bahwa Anggaran di lokasikan sebesar besarnya untuk kesejahteraan dan kemaslahatan Warga Jakarta dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *