Jalani Cuci Otak Saat Dokter Terawan Tersandung Kasus, Ini Kata Pasien

Seorang pasien berinisial AK mengaku menjalani cuci otak (brain washing) di saat dokter Terawan Agus Putranto sedang terbelit masalah. Wanita berumur 54 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai pengacara di bidang arbitrase itu menjalankan prosedur brain washing di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada Selasa, 4 April 2018.

Seperti diketahui, pada hari yang sama, beredar secarik surat yang dikeluarkan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) terkait pemecatan sementara dokter Terawan dari keanggotaan IDI.

Terawan diduga sudah berlebihan dalam mengiklankan diri. Menurut MKEK, tidak semestinya dia mengklaim metode cuci otak sebagai tindakan pengobatan (kuratif) dan pencegahan (preventif) stroke iskemik.

Hal lain yang dipermasalahkan MKEK, mengenai janji-janji dokter Terawan akan kesembuhan setelah menjalankan tindakan cuci otak, padahal terapi tersebut belum ada bukti ilmiah atau evidence based medicine (EBM).

Namun, permasalahan itu tidak membuat perubahan sikap AK terhadap dokter Terawan. “Sampai hari ini, saya masih bersikap positif terhadap dokter Terawan,” kata AK kepada Health-Liputan6.com pada Kamis (5/4/2018).

Informasi mengenai dokter Terawan sudah AK ketahui beberapa tahun lalu. Dia sering mendengar cerita teman-teman yang mengalami perbaikan kesehatan usai terapi cuci otak menggunakan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) ini.

Pertemuan AK dengan dokter Terawan saat wanita yang tinggal di Jakarta ini membesuk teman di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Ketika melewati ruangan Terawan, rupanya dokter spesialis radiologi konsultan itu ada di tempat.

Setelah berkonsultasi tentang keluhan pusing dan nyeri hingga bagian leher. Lalu, dia diminta untuk melakukan pemeriksaan sepekan ke depan tepatnya pada Senin, 3 April 2018.

“Di hari Senin dari jam sembilan pagi sampai sore diobservasi langsung oleh dokter Terawan. Ada MRI juga dan tes lab. Rupanya, ada masalah di pembuluh darah otak kiri saya,” kata AK.

Setelah diketahui permasalahannya, AK datang kembali pada Selasa, 4 April 2018 untuk menjalani terapi brain spa. Selama menjalani tindakan tersebut dia tetap sadar karena hanya bius lokal.

“Nyaman banget, tindakannya kurang dari 20 menit, mungkin 18 menit,” katanya.

Sesudah terapi AK merasa keluhan yang selama ini dia rasakan berkurang. “Saya merasa lebih nyaman, merasa lebih baik. Saya happy, (kepala) enggak terasa berat lagi,” tuturnya.

Jika pasien lain banyak yang memilih pulang, AK dirawat inap. Sekitar sebulan ke depan, AK bakal menjalani pemeriksaan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *