Gempa di Jakarta terkait Gerhana Bulan Akhir Januari?

Wakil Presiden Jusuf Kalla hendak menunaikan salat zuhur ketika Jakarta diguncang gempa, “Pak, ada gempa,” itu yang disampaikan salah satu stafnya. Setelah melihat lampu gantung bergoyang, JK pun keluar ruangan. Sementara itu, kepanikan melanda Ibu Kota. Di sebuah pusat perbelanjaan, para pengunjung berebut turun dengan eskalator, karyawan berhamburan dari perkantoran. Pasien rumah sakit dievakuasi, tamu salon berhamburan, bahkan beredar foto seorang pria keluar dengan handuk terlingkar di badan. Mungkin ia sedang mandi saat lindu mengguncang.

Seorang warga yang trauma membandingkan guncangan kuat di Jakarta dengan apa yang dialaminya pada 2007 lalu, ketika lindu dahsyat melanda Yogyakarta. Guncangan hebat yang dirasakan warga Jakarta Selasa siang, sejatinya tak berpusat di ibu kota. Episentrum gempa 6,1 skala Richter berada di laut, 43 km barat daya Kota Muarabinuangeun, Kabupaten Cilangkahan, Provinsi Banten.

Namun, lagi-lagi, peristiwa tersebut membuktikan satu hal: Jakarta, kota terpenting di Indonesia, rentan gempa. Belum lagi reda rasa was-was, beredar kabar tentang potensi lindu yang lebih besar lagi. “Diharapkan keluar rumah nanti malam pukul 22.30-23.59 dikarenakan potensi gempa susulan 7,5 SR,” demikian kabar yang mengatasnamakan BMKG beredar viral.

Agen Judi Bandar Togel – Casino – Live Games Pool Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Kabar, yang menyertakan peringatan dini dari BMKG soal potensi gelombang tinggi, belakangan terbukti bohong alias hoax. BMKG membantah, ahli gempa pun menepis. Ahli Geologi Gempa Bumi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, gempa susulan biasa terjadi. Namun, kekuatannya tak sebesar yang utama. “Gempa susulan hanya untuk menyeimbangkan lempeng saja. Kadang masyarakat itu salah pengertian. Yang harus diwaspadai sebenarnya gempa yang besarnya tadi,” kata Danny saat dihubungi

Masyarakat diminta tidak terpancing isu tentang adanya prediksi gempa susulan 7,5 SR di media sosial. Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menegaskan, ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memprediksi secara pasti, kapan, di mana, dan berapa besar gempa akan terjadi. Oleh karena itu, dia meminta masyarakat mencari kebenarannya jika menerima informasi akan terjadi gempa. “Bahkan dengan spesifik mengatakan besar, waktu dan lokasi itu adalah hoax. Jadi jangan ikut-ikutan menyebarkan di medsos.”

Meski demikian kesiapsiagaan adalah hal yang wajib dimiliki masyarakat Indonesia. Perlu dipahami bahwa negara kita terletak di lingkaran ‘cincin api Pasifik’ atau Pacific Ring of Fire dan daerah kedua yang paling aktif di dunia: sabuk Alpide. Terjepit di antara dua wilayah kegempaan berarti, Tanah Air menjadi lokasi sejumlah letusan gunung berapi dan gempa terdahsyat yang pernah terjadi di muka Bumi. Menjadi ‘supermarket’ bencana.

Sutopo menjelaskan, selatan Jawa merupakan zona sepi gempa besar. Wilayah selatan Jawa, khususnya dari segmen Pangandaran hingga Pacitan dan Banyuwangi, adalah zona seismic gap. “Lempeng Indo Australia dan Eurasia di selatan Jawa ini aktif bergerak rata-rata dengan kecepatan 6,6 cm per tahun. Ratusan tahun tanpa gempa besar sehingga energinya terkunci. Artinya ada potensi yang besar. Suatu saat bisa lepas energinya menjadi gempa dan membangkitkan tsunami. Kapan? Kita tidak tahu pasti,” tutur Sutopo.

Agen Judi Bola – Casino – Poker Terpercaya Dengan Minimal Deposit Hanya 20 Ribu untuk Pendaftaran Silakan KLIK DISINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *